Sunday, 30 July 2017

Senyuman Tengah Malam

Senyuman Tengah Malam

Karya : Ken Niyu (alfian.rohmadi@gmail.com)


Seketika tibalah Aku pada langkah yang menggiringku ke tempat yang tak ku mengerti. Sebut saja namaku Adit, pria biasa yang bercita-cita ingin jadi orang  baik saja hehehe.

Saat ini aku berada di tempat yang tak ku ketahui dan kini aku tak begitu menginginkan hal ini. Kakiku berjalan ke arah yang sebenarnya belum ku inginkan. Tibalah aku di sekolah, tempat aku bekerja. Aku di sini bukan untuk belajar atau mengajar, melainkan aku akan menikah. Entah mengapa aku bisa menikah di tempat seperti ini. Ayah dan ibuku ada di sini dengan wajah sumringah menantikan bagaimana kejadian ini akan segera berlangsung.

Aku bersama calon istriku (namanya Mahesa) bergandengan tangan, seperti sepasang kekasih tua yang sedang ingin menyebrang jalan, lambat sekali laju jalan kami, dan memang seharusnya begini, karena inilah arak-arakan (budaya dalam pernikahan) dan aku masih tak mengerti mengapa aku bisa berada di sini.

Akhirnya selesai juga acara ini, aku langsung pulang ke rumah untuk beristirahat. Tak lama berselang, ayah dan ibuku tiba juga di rumah. Anehnya, mereka pulang tidak sendiri dan aku melihat ayah ibuku berjalan ke rumah dengan seorang pria tua. Ku lihat usia pak tua ini hampir sama dengan ayahku, ditambah lagi pak tua ini mengenakan peci hitam di kepalanya. Sampailah mereka ke dalam rumah dengan senyum aneh mereka. Aku seraya berkata dalam hati, "ada apa lagi ini?" Sudah ku duga, seperti ada yang aneh dengan mereka dan ternyata benar, aku didudukkan di hadapan mereka. Ayah & ibuku mengenalkan pria tua itu dan berkata, "kamu akan belajar akad dengan bapak ini." Ternyata arak-arakan tadi pagi bukan berarti aku sudah menikah. "Latihan akad ini untuk pernikahanmu minggu depan agar kamu lancar mengucapkannya nanti," ucap ayah. "trus tadi yang arak-arakan itu ngapain" pikirku. Aku makin tak mengerti tentang segala kejadian hari ini.

Kini aku mencoba menenangkan diri sejenak. Di pinggir lapangan sepak bola di dekat kampungku, aku berencana ingin main bola dengan teman-temanku. Seperti biasa, aku suka melihat seluruh lapangan dari sisi tempat dudukku saat ini sebelum aku main bola. Entah mengapa aku melihat Mas Dani sedang duduk sendirian di sisi lain lapangan (aku memanggil "Mas" untuk orang yang umurnya lebih tua dariku). Aku mencoba mendekatinya dan ku lihat matanya menatap ke satu titik, sepertinya dia sedang melamun. Aku menyapanya dan langsung dia menatapku cukup lama tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kemudian Mas Dani kembali melihat kearah lain dan kembali melamun. Ingin rasanya menyapanya lagi, tetapi mungkin saat ini dia butuh waktu sendiri. Maka sesaat, ku biarkan dia tetap seperti itu.

Ketika Aku siap untuk bermain bola, muncul Mas Irwan yang juga temanku, ternyata dia juga ingin main. Tiba-tiba,  di saat yang sama, muncul kejadian yang tak bisa dipercaya. Lawan tanding kami ternyata adalah ibu-ibu. Aku dan Mas Irwan seakan tak bisa lagi menahan tawa. Di selah-selah tawaku, aku melihat seorang wanita, dan ternyata dia calon istriku, dia bersama dengan kumpulan ibu-ibu yang ingin main bola juga. Sekilas dia (calon istriku) kayak ibu-ibu karena maennya sama ibu-ibu, tapi setelah beberapa detik ku lihat, ternyata dia cantik. Tak disangka lawan main bolaku adalah calon istriku sendiri dan juga timnya (ibu-ibu). Semua berjalan seperti biasa tidak ada yang spesial karena memang pada dasarnya aku tidak mengerti mengapa aku akan menikah.

Setelah selesai bermain bola, aku berniat menghampiri Mas Dani yang sejak tadi masih terpaku di tempat yang sama dan melamun. Kali ini Mas Dani merespon kedatanganku, lalu aku mulai menanyakan keadaannya, "kenapa mas? Ngelamun aja." Mas Dani pun menjawab "Kamu tau Mahesa? Wanita yg ingin kau nikahi? Dia pacarku." Sontak aku tertegum sesaat mendengar hal ini. Aku berfikir mungkin hal inilah yang membuatnya termenung sedari tadi. Aku pun menjawab, "Kog bisa,  pacar Mas mau dinikahkan dengan saya dan kenapa Mas diam saja? Saya dan Mahesa, minggu depan baru akan menikah, kalau memang Dia pacar Mas Dani, Mas Dani masih punya waktu." Sekarang menjadi berbalik, Mas Dani tertegum mendengar jawabanku. Detik demi detik berlalu, seketika Mas Irwan datang dan berkata, "dia gak berani, gak berani nikahin Mahesa, gak berani bilang ke orangtuanya, gak ada kejelasan sama pacarnya." Sepertinya Mas Irwan mendengar percakapan Aku dan Mas Dani.

Sementara Mas Dani masih tertetegum, Mas Irwan berbicara denganku dan mengatakan bahwa yang membuat Aku menikah dengan Mahesa adalah dia. Mas Irwan lah yang menceritakan kepada ayah dan ibuku kalau kami saling mencintai dan akhirnya, orang tua kami sepakat menikahkan kami.

Sementara itu, di dunia yang lain. Aku, Sang Penulis cerita ini, terbangun. Tepat pukul 03.00 malam,  Aku terbangun dan tersenyum di malam itu. Cerpen ini ku buat di hari dan jam yang sama setelah aku terbangun dari mimpi ini. Penulis juga berencana akan langsung memosting cerpen ini pada pagi harinya. Ada beberapa hal yang perlu diketahui, Mas Dani dan Mas Irwan memang benar adalah temanku dan kami bekerja di tempat yang sama, tetapi bukan di sekolah (seperti yang diceritakan cerpen ini). Bagaimana dengan Mahesa? Penulis benar-benar tidak mengenalnya dan tanpa disengaja setelah terbangun dari mimpi, penulis mencoba mengingat nama wanita yang ada dalam mimpinya dan ternyata terlintas nama Mahesa hehehe. Sekian dan salam dari Penulis, Bye.. Bye..


Read More

Tuesday, 25 July 2017

Style pada Bahasa dan Style pada Sastra

Style pada Bahasa dan Style pada Sastra

Pernah tidak kita bertanya-tanya, apakah gaya bahasa itu hanya ada pada sastra? Bagaimana dengan pidato? Berbicara di depan umum, apakah tidak menggunakan gaya bahasa? Nah.. Pertanyaan ini penting untuk dijawab sebelum kita masuk lebih dalam pada pembahasan jenis-jenis gaya bahasa. Perlu kita ketahui bahwa ilmu yang mempelajari tentang gaya bahasa dinamakan stilistika. Pada kajian stilistika, sejatinya terdapat dua belah sisi gaya bahasa, yaitu gaya bahasa pada ranah sastra dan gaya bahasa pada ranah retoris. Untuk lebih jelasnya perhatikan pembahasan yang diperkuat dengan teori di bawah ini.

Pada umumnya kreatifitas dan imajinasi, sistem konvensi, dan hubungannya dengan struktur sosiolkultural secara keseluruhan dianggap sebagai ciri-ciri utama dalam rangka membedakan antara style pada bahasa dan  style pada sastra. Dengan demikian berbeda stilistika pada bahasa dan stilistika pada sastra, pada analisis bahasa mempertimbangkan keterkaitannya dengan konvensi sastra dan budaya. Stilistika pada bahasa mengacu pada cara seseorang berbicara yang berkaitan dengan struktur kalimat, pilihan kata atau diksi, langsung tidaknya makna, dan cara berbicara seseorang tertanda pada nada suara. Hal ini terlihat jelas gaya bahasa seseorang saat berbicara dapat menjadikan ciri khas atau penanda pribadi orang tersebut. Melalui gaya bahasa seseorang menjadi khas dengan ciri berbicara tertentu.

Hal ini tentu berbeda dengan gaya bahasa pada sastra. Dikaitkan dengan aspek estetika, gaya bahasa pada sastra merupakan permainan kata, permainan bunyi seperti sajak, dan semua bentuk penggunaan bahasa seperti majas tetapi yang kemudian  tujuan akhir “permainan” adalah aspek keindahan, didukung pesan-pesan yang terkandung di dalamnya (Ratna, 2013: 147-154).  Gaya bahasa pada sastra juga  dapat digunakan sebagai penanda pribadi yang dapat dilihat dari segi dominan sajak pribadi seorang penyair yang terlihat pada sajak-sajak pengarang (Junus, 1989: 20).
Read More

Wednesday, 19 July 2017

SYAWA'IN

SYAWA'IN


Karya: Ken Niyu


Karep Capai adalah sebuah kampung yang berisikan orang-orang yang penuh ambisi. Tak bisa santai dan tanang walau hanya sekedipan mata, seakan meringkus lelap walau bulan sabit terbangun. Warga Kampung Karep Capai terkenal dengan ambisinya, setiap warga pasti mempunyai ambisinya sendiri dan memiliki sifat haus akan kesuksesan dan keberhasilan. Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua akan mendapat akhir yang sukses, banyak warga kampung yang memiliki ambisi tinggi namun tidak berhasil menggapainya dan banyak juga dari mereka yang stress dan pada akhirnya gila.

Bagaikan dua mata magnet, di sinilah hidup seseorang yang berbeda dengan identitas Kampung Karep Capai. Sebut saja namanya Syawa’in, seorang pria berambut hitam pekat dengan pakaian panjang menutupi telapak tangannya, sikapnya yang pendiam tak banyak bicara itulah yang membuatnya seperti warga langka bagi orang-orang Kampung Karep Capai.

Syawa’in adalah satu-satunya warga Kampung Karep Capai yang tidak memiliki ambisi berlebihan, dia berpendapat bahwa “segala sesuatu yang berlebihan belum tentu baik”. Syawa’in sangat jarang sekali berbicara dan termasuk ke dalam type pria yang kalem, tetapi ia selalu menolong warga yang sedang kesusahan. Bukan hanya sifatnya yang sederhana, hidup dan tempat tinggalnya pun sederhana. Sebuah rumah gubuk di dekat hutan yang tertutup semak-semak serta dedaunan yang betebaran di sekitar gubuknya hingga tak tampak seperti tempat tinggal yang layak. Namun itulah ia, tetap bersukur akan keadaanya.

Suatu hari ketika Syawa’in telah pulang dari hutan, ada orang gila dengan raup wajah kosong dan pakaian compang-camping duduk di kursi kayu depan rumah gubuk miliknya. Syawa’in mendekat dan berbicara dengannya serta sedikit menyentuhnya, tiba-tiba seketika saja orang yang terlihat gila itu tampak sehat layaknya orang biasa, disaat itu pula ada seorang warga yang tidak sengaja melihat Syawa’in menyembuhkan orang gila itu dan sejak kejadian itu Syawa’in dikenal sebagai seseorang yang bisa menyembuhkan orang gila.

Di kemudian hari ada seorang ibu yang membawa anaknya yang masih muda ke kediaman Syawa’in, sang ibu berkelut mengatakan bahwa anaknya gila karena usahanya bangkrut. Syawa’in pun mencoba menyembuhkan anak itu namun tidak berhasil, kemudian Syawa’in berbicara kepada ibu dari anak tersebut, “ibu maaf saya tidak bisa menyembuhkan anak ibu” ucap Syawa’in, sang ibu pun bicara “mengapa? Banyak orang gila yang bisa kau sembuhkan tapi kenapa anakku tidak?” Syawa’in pun menjawab dengan jawaban yang cukup panjang “saya melihat kegelapan dalam diri anak ibu, itu adalah pertanda bahwa saya tidak diizinkan oleh Sang Pencipta untuk menyembuhkanya. Sebab jikapun anak ibu sembuh, ia akan membuat kerusakan nantinya. Ini adalah kehendakNya, takdir manusia Dialah(sang khaliq) yang mengatur, kita hanya bisa berusaha dan berdoa”.

Warga Kampung Karep Capai kini mulai memandang Syawa’in sebagai orang penting dan tidak lagi dikucilkan karena keanehanya. Suatu ketika Syawa’in diperintahkan untuk memberikan ceramahnya di masjid, Syawa’in yang merasa tidak pantas untuk menasehati orang lain kemudian hanya berkata satu kalimat “kita boleh berusaha, kita boleh berambisi, tetapi tanpa ibadah dan doa, ambisi akan menjadi amunisi yang mengenai dirimu sendiri”.
Read More

Tuesday, 18 July 2017

GAYA BAHASA

GAYA BAHASA


POSTINGAN kali ini akan membahas mengenai gaya bahasa, tentunya gaya bahasa dalam konteks sastra. Berikut sedikit ulasan mengenai sastra.

Perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa karya sastra adalah gambaran kehidupan manusia yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk dipahami dan dimanfaatkan oleh pembacanya. Karya sastra merupakan suatu bentuk komunikasi yang disampaikan dengan cara yang khas dengan memberikan kebebasan kepada pengarang untuk menuangkan kreativitas imajinasinya. Hal ini menyebabkan karya sastra menjadi kompleks, sehingga memiliki berbagai kemungkinan penafsiran dalam memahami karya sastra tersebut. Berawal dari inilah kemudian muncul berbagai teori untuk mengkaji karya sastra, termasuk karya sastra novel.

Sebutan novel yang kemudian masuk ke Indonesia berasal dari bahasa Italy novella (yang dalam bahasa Jerman : novelle). Dewasa ini istilah novella dan novelle  mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiantoro dalam Purba, 2010: 10). Novel diciptakan oleh sastrawan dengan maksud untuk mengajak pembaca memahami isi cerita lewat gambaran-gambaran realita kehidupan yang terkandung dalam novel tersebut. 

Sebuah novel tentu terdapat unsur-unsur gaya bahasa seperti gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa pertentangan, gaya bahasa pertautan, dan gaya bahasa perulangan. Gaya bahasa tersebut dapat menjadi pembeda atau ciri khas pada setiap karya seseorang. Gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale dalam Tarigan, 2009: 4).

Menurut Tarigan (2009) gaya bahasa digolongkan menjadi empat yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa pertentangan, gaya bahasa pertautan, dan gaya bahasa perulangan. Selaras dengan hal ini, Keraf dalam bukunya Diksi & Gaya Bahasa menggolongkan gaya bahasa menjadi gaya bahasa retoris & gaya bahasa khiasan. 
Read More

Maraknya Teknologi Informasi dan Komunikasi

Maraknya Teknologi Informasi dan Komunikasi



Karya: Alfian Rohmadi

Di zaman yang modern ini bisa dikatakan sebagai zamanya teknonogi, mengapa dikatakan demikian? Sebab, dapat kita lihat di sekitar kita pasti ada yang namanya teknologi. Berbeda dengan zaman dahulu yang masih tradisional. Dulu kita sulit untuk dapat menemukan dan melihat teknologi yang canggih, apa lagi memilikinya. Tapi tidak untuk saat ini, hampir setiap orang memiliki teknologi yang canggih, salah satunya adalah handphone (HP), kita lihat sekarang hampir setiap orang memilikinya, bahkan akhir-akhir ini anak Tingkat Sekolah Dasar (SD) sudah banyak yang memegang handphone pribadi yang diberikan oleh orang tuanya dan masih banyak lagi berbagai jenis teknologi yang sudah marak tersebar di dunia, khususnya Indonesia. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini memiliki berbagai macam dampak bagi manusia. Ada dua jenis dampak yang ditimbulkan yaitu dampak positif dan negatif.

Dampak positif dari perkembangan teknologi antara lain:

  • Manusia sangat terbantu dengan perkembangan teknologi ini, seperti handphone yang dapat mempererat tali silaturahmi antar manusia, laptop/komputer yang dapat membantu pekerjaan, dan internet yang memudahkan kita untuk dapat memperoleh informasi dan pengetahuan.


Memang masih banyak lagi dampak positif dari pesatnya perkembangan teknologi ini. Namun perkembangan teknologi tidak hanya meninggalkan dampak positif tetapi juga ada dampak negatifnya antara lain:

  • Manusia akan cenderung sangat malas karena merasa telah terbantu oleh teknologi.
  • Manusia akan sangat bergantung pada teknologi, dikhawatirkan ketika teknologi menghilang manusia akan kehilangan jati dirinya dan cepat frustasi.


Masih banyak dampak negatif lainya, belum lagi masalah penyalahgunaan teknologi tersebut. Dilihat dari pernyataan di atas bahwa teknologi sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Kita harus pandai memilih dan menggunakan teknologi tersebut dengan benar, efektif, dan efisien.
Read More

Sunday, 16 July 2017

Pesisir Pantai Teluk Betung Selatan


Pesisir Pantai Teluk Betung Selatan


Karya: Alfian Rohmadi

Pantai adalah sebuah tempat yang sangat diminati oleh masyarakat, bahkan orang luar negeri sangat menyukai yang namanya pantai. Pantai terletak di pesisir atau pinggir daratan yang bertemu dangan air laut. Di Indonesia terdapat banyak sekali pantai karena Indonesia adalah Negara kepulauan yang memiliki banyak pulau yang terbentang dari Sabang sampai Marauke. Pantai akan sangat indah apabila dirawat atau dikelola dengan baik, sebaliknya jika pantai tidak dikelola dengan baik maka pantai tersebut akan rusak.

Berbicara tentang pengelolaan pesisir pantai, ada sebuah daerah dimana pantainya bukan lagi tidak terawat tetapi sudah sangat berantakan. Pesisir pantai Teluk Betung Selatan adalah tempat dimana pesisir pantainya sangatlah kotor. Bagaimana tidak kotor, warga di sana membuang sampah rumah tangganya ke pesisir laut tersebut bahkan setiap hari, itu pun bukan hanya satu atau dua orang, tetapi satu kampung kalau membuang sampah maka lautlah tempatnya. Tidak heran jika laut di daerah itu sangat kotor dan bahkan bau. Hal ini sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Pesisir Pantai Teluk Betung Selatan, bagi mereka ini seperti kegiatan yang lazim dilakukan dan tidak ada penyesalan.

Pemandangan pantai yang seharusnya indah kini berubah menjadi tidak enak dipandang. Permasalahan ini seharusnya dapat perhatian bagi pemerintah setempat, karena pantai ini bila dibersihkan serta ditata dan dikelola dengan baik, tempat ini bisa menjadi tempat pariwisata yang menarik. Dan masyarakat sekitar juga harus memberi perhatian lebih dan bertanggung jawab atas sampah ini.
Read More

Rasakan

Rasakan



Karya: Ken Niyu

Menginjakan kaki di daratan
selangkah saja ada halangan
teriakan bisikan takan terhindarkan
merasakan sumpeknya pemikiran

Lihat langit angkasa
melirik biru putih di sana
memanjakan mata iri rasanya
menyejukan jiwa nan hampa

Menikmati udara tanpa hambatan
terkadang terhempas oleh awan
bertemu burung bersiul memandang
mengibarkan bendera kebebasan
Read More

Jauhnya Cahyamu


Jauhnya Cahyamu


Karya: Ken Niyu

Matahari jiwaku
sumber kehidupanku
diriku ingin bertemu
menginginkan hangatnya sinarmu

Saat ini kau jauh dariku
seakan tak bisa memilikimu
terngiang mustahil untuk ku
mendekat dan memelukmu
Read More

Terbitnya Dirimu di Anganku


Terbitnya Dirimu di Anganku


Karya: Alfian Rohmadi

Di saat ku membuka mata dan melihat dunia
hanya satu tujuanku
menemukan kekasih hati
munculah engkau untuk ku

Matamu indah layaknya pelangi
rupa wajahmu menandai hatimumu
aura kecantikanmu menembus dinding hatiku
terbayang positif di benak ku

Andaikan engkau memiliki sepasang sayap
pasti akan ku patahkan kedua sayap mu
karena..... aku tak ingin kau terbang tinggalkan ku
namun kenyataan tak seindah dari yang ku bayangkan

Walau ku tak tahu kau milik siapa.....
sekarang aku hanya bisa melihatmu dari jauh
karena.......mencintaimu........
adalah.......anugerah........bagiku.
Read More

Lukisan Sang Surya

Lukisan Sang surya

Karya: Ken Niyu

Sang surya terbit menyapa bumi
Menatap indah warna warni
Seketika matahari melukis
Sambil meringis bercampur dramatis

Awal lukisan tergambar halus
Tengah lukisan tergambar buram
Akhir lukisan tergambar kasar
Dengan kanfas kuat dan cat hebat

Tersimpanlah lukisan dalam baja
Sang surya pun terbenam dangan indahnya
Hingga penjaga malam pun tiba

Sang surya bangun, dengan wajah sumringah ingin melihat lukisan
Namun, hanya tampak abu kering berhamburan
Sang surya tertegum
Alam datang dan memasang wajah tersenyum

Read More

Saturday, 15 July 2017

Senyum Impian

Senyum Impian

Karya: Ken Niyu

Bunga engkaulah senyumku

Bahagia dan rindu
Membuka gerbang kegembiraan
Menjauhkan kegelisahan

Putih hati
Bening jiwa
Sederhana
Sempurna
Itulah engkau bidadari mimpiku

Ingin ku satukan sepasang hati
Menjadikan ku kesatria bersahaja
Menatap hari esok
Membangun bahtera surga
Read More

Terbitnya Dirimu di Anganku

Terbitnya Dirimu di Anganku

Karya: Ken Niyu

Di saat ku membuka mata dan melihat dunia
hanya satu tujuanku
menemukan kekasih hati
munculah engkau untuk ku

Matamu indah layaknya pelangi
rupa wajahmu menandai hatimumu
aura kecantikanmu menembus dinding hatiku
terbayang positif di benak ku

Andaikan engkau memiliki sepasang sayap
pasti akan ku patahkan kedua sayap mu
karena..... aku tak ingin kau terbang tinggalkan ku
namun kenyataan tak seindah dari yang ku bayangkan

Walau ku tak tahu kau milik siapa.....
sekarang aku hanya bisa melihatmu dari jauh
karena.......mencintaimu........
adalah.......anugerah........bagiku.
Read More

Tanah Air Tercinta

Tanah Air Tercinta

Karya: Ken Niyu

Negeriku tercinta
tempat lahirnya anak bangsa
mempersatukan jiwa dan raga
bersama memeluk dunia

Merah putih terus berkibar
bangkit dari keterpurukan
menabung kejayaan dan
meninggikan sang garuda

Semangat jiwa nan membara
kobaran api tak henti menyala
takan redup walau badai menerpa
inilah kami indonesia
Read More